Prinsip CBSA Dilihat dari Tingkah Laku Guru

Memberikan kesempatan kepada murid untuk melakukan berbagai macam kegiatan belajar.
Hal ini dapat terjadi jika titik pusat proses belajar-mengajar diletakkan pada kegiatan murid dan bukan pada kegiatan guru. Guru diharapkan bertindak sebagai motivator dan fasilitator. Pada umumnya setiap murid lebih senang dan bergairah jika ia diminta untuk melakukan percobaan atau upaya menemukan cara memecahkan suatu masalah daripada hanya mendengarkan dan mencatat apa yang disampaikan oleh guru.
Menciptakan berbagai situasi belajar.
Banyak cara yang bisa dilakukan guru untuk menciptakan situasi belajar-mengajar yang kondusif. Misalnya, mengatur ruangan sehingga memberi kemungkinan kepada murid untuk melakukan diskusi kelompok, memasang hasil kerja murid dan guru yang dapat digunakan sebagai sumber belajar pada dinding kelas, dan lain-lain. Menggunakan berbagai macam metode mengajar juga akan membuat situasi belajar yang beragam. Keberagaman situasi belajar sangat diperlukan agar suasana kelas tidak membosankan.
Mendorong Murid menjadi peserta aktif dalam proses belajar.
Guru harus berusaha meningkatkan gairah belajar murid sehingga mereka ikut serta secara aktif dalam proses belajar-mengajar. Untuk itu perlu dikembangkan bahan kajian dan proses belajar-mengajar yang dapat selalu menantang murid untuk menyelesaikan pekerjaannya. Hal ini mungkin terlaksana jika guru memiliki kemampuan untuk berinteraksi dengan murid secara edukatif dan kemampuan untuk memotivasi serta menciptakan kondisi kelas untuk itu.
Mendorong murid agar lebih banyak berinteraksi di kelas.
Murid akan banyak berinteraksi di kelas apabila guru memberi kesempatan kepada murid untuk bertanya, atau dalam kerja secara berkelompok meminta agar tidak ada murid yang mendominasi kegiatan belajar. Hal ini dapat terjadi apabila guru memiliki kemampuan untuk memotivasi murid yang kurang melakukan interaksi atau kurang memberikan tanggapan terhadap rangsangan yang diberikan oleh guru atau teman sekelasnya.
Mendorong murid agar menjadi lebih kreatif.
Misalnya, guru memberi kesempatan kepada murid untuk menyampaikan berbagai macam kemungkinan jawaban atau menciptakan sesuatu sesuai dengan kemampuan yang dimiliki murid. Hal ini dapat terjadi jika guru tidak selalu terikat dengan bahan kajian secara ketat. Upaya semacam ini memerlukan kemampuan guru untuk berkreasi atau untuk menciptakan sesuatu yang baru.
Memberi pelayanan terhadap perbedaan individu.
Perbedaan individu akan terlayani apabila guru memberi kesempatan kepada murid untuk belajar menurut cara dan waktu yang dibutuhkan sesuai dengan kemampuan masing-masing murid di dalam proses belajar-mengajar. Memberikan tugas atau pertanyaan sesuai dengan kemampuan masing-masing murid merupakan salah satu contoh pelayanan terhadap perbedaan individu. Hal ini dapat terjadi apabila guru mengenal dan memahami muridnya dengan segala keberadaannya dan memiliki kemampuan yang cukup untuk melayani perbedaan individu. Untuk maksud ini diperlukan proses belajar-mengajar yang matang,
Menggunakan berbagai sumber belajar.
Selain buku pelajaran, banyak macam bahan yang dapat digunakan sebagai sumber belajar. Misalnya bahan dari koran, majalah, dan lingkungan. Pemanfaatan lingkungan, baik lingkungan alan, lingkungan sosial dan lingkungan budaya sebagai sumber belajar sangat membantu murid untuk lebih cepat memahami apa yang dipelajarinya, karena semua itu "dekat" dengan murid.
Memberikan umpan balik.
Guru harus selalu memberikan tanggapan terhadap hasil belajar anak didik. Tanggapan itu dapat berupa pernyataan yang menunjukkan ketepatan dari hasil belajar yang dicapai atau perbaikan atau penyempurnaan dari pemahaman terhadap pengetahuan, sikap dan nilai serta keterampilan yang dimiliki oleh murid. Hal ini dapat berjalan baik apabila umpan balik diberikan guru dengan tidak menyinggung perasaan murid atau memalukan murid di depan kawan-kawannya. Umpan balik perlu disampaikan dengan "bahasa yang tepat" sehingga murid dengan senang hati memperbaiki dan menyempurnakan hasil belajarnya.
Menilai hasil belajar murid dengan berbagai cara.
Menilai hasil belajar murid dengan menggunakan tes tertulis merupakan hal yang lazim dilakukan oleh seorang guru. Tetapi tes tertulis tidak sesuai untuk semua perubahan tingkah laku murid yang ingin dinilai keberhasilannya. Karena itu, dalam proses belajar-mengajar yang menggunakan strategi CBSA perlu digunakan berbagai cara penilaian. Selain dengan cara tertulis, penilaian dapat dilakukan dengan pengamatan selama proses belajar-mengajar berlangsung, atau dengan wawancara atau melakukan tugas.

0 Response to "Prinsip CBSA Dilihat dari Tingkah Laku Guru"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel